Senin, 12 Juni 2017

R. GUNTUR MAHARDIKA: Doa Orang-Orang Lapar



HANYA ORANG MISKIN YANG TAHU BENAR APA ARTINYA
“LAPAR”. Kalimat itu muncul begitu saja dari seorang miskin papa, ….
datar, tanpa ekspresi keinginan untuk mengukuhkan kebenaran atas
pernyataannya. Begitulah ucapan itu seolah mengalir tanpa sedikitpun
analisis atau referensi2 keagamaan menyertainya.

Lapar secara
fisiologis bukanlah perkara yang aneh karena sudah menjadi hukum alam
yang sangat biasa terjadi pada setiap makhluk bernyawa. Lapar is lapar,
dalam pembahasan ilmu alam, ia hanyalah
sebuah refleksi fisiologis yang menunjukkan kurangnya asupan makanan
tertentu ke dalam tubuh. Itu bisa terjadi pada setiap makhluk bernyawa
di bumi ini. Fakta itu riil tak perlu argumentasi apapun.


Tetapi kata-kata itu akan berbeda jika diucapkan oleh seorang yang
lapar karena miskin, dan tidak ada kesanggupan untuk memberi jaminan
pada dirinya sendiri bahwa nanti atau esok hari ia bisa menjawab
panggilan alam itu dengan melihat fakta tentang ketidakpastian hidupnya ?


Bisa saja kita berusaha menggugurkan pernyataan tersebut dengan
argumentasi, bahwa kita diajarkan untuk berpuasa agar bisa berempati,
menahan haus dan lapar, menahan setiap gejolak ambisius nafsu dalam
wujud apapun, sehingga menjadi pembenaran untuk menolak pernyataan bahwa
hanya orang miskin yang sanggup mengerti apa artinya lapar.”


Bagi seorang yang memiliki kecukupan secara materiil, menahan lapar
dengan cara berpuasa bukanlah perkara sulit. Secara psikologis, ia
mengerti bahwa ia akan berbuka , menikmati indahnya kebersamaan
didalamnya tanpa beban apapun dibenaknya. Tetapi tidak bagi seorang yang
tidak memiliki kecukupan materiil, ia bahkan tidak punya kesanggupan
menjamin dirinya sendiri bisa memenuhinya kembali atau tidak di keesokan
harinya. Terdapat keresahan yang menggelayut dipundaknya, sebuah
pertanyaan yang bisa dipastikan itu tidak ada bagi orang-orang yang
memiliki kecukupan secara materi.

Laparnya orang miskin, adalah
kompleksitas persoalan. Maka benarlah kiranya, ketika Imam Hasan bin Ali
ditanya tentang apa arti kedermawanan beliau menjawab , “Bahwa
kedermawanan adalah memberi sesuatu bahkan sebelum orang meminta ataupun
mengucapkan tentang apa yang dibutuhkannya.”

# Tidak perlu
bersusah payah untuk menjadi sosialis, agar bisa berbagi. Perlakukan
saja orang lain dengan baik seperti kita ingin mendapatkan perlakuan
yang baik pula dari siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar